PETA BISNIS DAN PERSAINGAN PASAR RITEL MIGAS–BBM DI INDONESIA 2011-2015

Hingga saat ini, bisnis industri hilir/ritel migas - Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia, mulai dari pengolahan, penyimpanan, pengangkutan/distribusi & niaga umum (SPBU), yang tetap merupakan salah satu bisnis “booming” & fenomenal. Kenaikan harga BBM nasional yang selalu menjadikan konsumen (masyarakat & industri) “menderita”, namun bagi pengusaha dan investor industri hilir migas tetap menjadi “berkah”. Bisnis ini sejak tahun 2006 “diserbu” oleh para investor asing dan swasta. Kebutuhan /konsumsi BBM nasional semakin meningkat pesat tiap tahunnya.

 

Bisnis hilir migas mulai dari pengolahan/kilang BBM, penyimpanan, pengangkutan dan niaga umum (SPBU). Diantara investor-investor dalam bisnis tersebut, sebagian diantaranya adalah para taipan/raksasa minyak/SPBU dunia. Menurut penelitian MATACORP, ada sekitar 10 taipan /raksasa minyak & SPBU dunia yang merencanakan akan menyerbu dan memperebutkan kue bisnis BBM  di Indonesia, diantaranya adalah SHELL, TOTAL & PETRONAS yang sudah beroperasi mendirikan SPBU Terpadu/Terintegrasi di Jakarta & sekitarnya serta kota besar lainnya, seperti Surabaya. Sementara perusahaan asing lainnya yang juga berminat antara lain adalah CHEVRON/CALTEX, EXXONMOBIL, BP, GULF dll. Perusahaan-perusahaan kelas dunia tersebut tentunya akan menjadi pesaing bagi perusahaan minyak BUMN, PERTAMINA, yang sudah lebih dulu bercokol dan menguasai pasar BBM di negeri ini.

 

Pembatasan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi mulai Maret 2011 mendatang diprediksi akan mengubah perilaku pemilik mobil. Pemilik kendaraan roda empat akan lebih sering mengandangkan mobil miliknya. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) memprediksi bahwa sebagian dari pemilik mobil, khususnya di DKI Jakarta, hanya akan menggunakan mobil pada saat akhir pekan atau pada acara-acara tertentu saja. Dampak lain pembatasan BBM bersubsidi adalah adanya peralihan penggunaan kendaraan bermotor, dari mobil ke sepeda motor.

 

Sementara itu, Pertamina menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) Pada 15 Januari 2011 pukul 00.00 WIB. Kenaikan BBM non-subsidi jenis Pertamax, Pertamax Plus, Bio Pertamax, di wilayah Jakarta dan di sebagian besar wilayah Indonesia. Menurut VP Corporate Communications Pertamina, Mochamad Harun, kenaikan ini dipicu oleh harga minyak mentah dunia yang menembus US$ 90/barel. Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax ini bervariasi dan berkisar Rp.200,- hingga Rp.300,- per liter. Di Jakarta dan sekitarnya harga mencapai Rp.7.850,- per liter. Dalam rangka mengurangi ketergantungan terhadap BBM dan efisiensi pemakaian BBM, pemerintah juga menetapkan program konversi BBM ke gas (BBG.)